Mengabdi 25 Tahun, YPUI Nurul Iman Serahkan Penghargaan

0
185
Pemberian Penghargaan Kepada Orang yang telah ber Dedikasi dan ber Kontribusi selama 25 Tahun kepada YPUI NURUL IMAN Oleh Kepala BKPP Wil.III Jabar

MAJALENGKA – Yayasan Pendidikan Umat Islam (YPUI) Nurul Iman memberikan penghargaan pada mereka-mereka yang telah berdedikasi dan berkontribusi selama 25 tahun ke Yayasan tersebut. Hal itu diberikan saat Isra Miraj sekaligus pelantikan para kepala sekolah yang ada di lembaga tersebut mulai dari tingkat Raudatul athfal (RA), kelompok belajar (kober), MTs, Pondok Pesantren (Ponpes) dan Majelis Taklim.

Mereka yang diberi penghargaan, yakni Drs. Syarif Hidayat, H Hasan Subandi, Pemerintah Desa Tajur kecamatan Cigasong Majalengka. Selain itu dilaksanakan pemberian penghargaan pada para donator yang telah mewakafkan tanahnya pada YPUI Nurul Iman. Mereka adalah H. Abdurahman, H Movh Yakub, H Djaenudin. Dikatakan Yogi dari 9.750 meter tanah yang digunakan YPUI Nurul Iman saat ini, 2.500 meter nya merupakan tanah wakaf.

”Jadi kita benar-benar bersyukur ada orang yang telah peduli terhadap pendidikan sehingga beliau-beliau telah mewakafkan tanahnya. Dari 9.750 meter saat ini yang digunakan oleh YPUI Nurul Iman, 2.500 meter itu merupakan tanah wakaf, sisanya dibeli asset Yayasan,” kata Yogie saat dikonfirmasi.

Pada kesempaan itu pun diresmikan ruang kelas unggulan. Ruang kelas ini, sebut Yogie diperuntukan bagi siswa yang masuk tahun ajaran baru. ”Bukan hanay secara fisiknya saja yang bagus, tapi system pendidikannya pun akan unggul,” ujarnya.

Dia mencontohkan jika anak masuk ke ruang kelas unggulan tersebut apabila belum bisa baca alquran maka akan terus diajarkan tahsin, sampai dengan lancar. ”Termasuk hal hal yang lemah secara akademis juga, nanti akan ada pendampingan dari wali kelas. Berbasis e-learning,” sambungnya.

Yogie menuturkan, ide awal adanya ruang kelas unggulan itu. Lantaran dirinya melihat fenomena yang membahayakan dari generasi saat ini, dimana anak-anak sudah malas untuk sekolah dan cukup untuk mengetahui sesuatu hal dengan gadgetnya.

“Saya melihat anak anak di sekitar ini, sudah malas sekolah. Mereka lebih baik duduk-duduk sambal pegang gadget, nyari google, cukup. Ngga perlu sekolah, kan ini bahaya. Kalau anak sudah seperti itu. Sehingga perlu ada terobosan. Makanya secara fisik kita persiapkan termasuk e-learningnya,” tutupnya. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here