Netty: 1/3 dari Penderita Difteri tidak Diimunisasi

    0
    126
    Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan, berharap Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bisa bekerja secara cepat dengan rumah sakit rujukan atau rumah sakit regional yang ada di Jabar untuk memberikan layanan terbaik dalam menangani wabah difteri.* humas jabar.

    BANDUNG, (TOPIKSATU.com) — Wabah difteri yang merupakan penyakit mematikan, kembali melanda Indonesia. Sudah 20 provinsi yang terserang penyakit ini. Bahkan Menteri Kesehatan sudah menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai November 2017, sudah ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 di antaranya meninggal dunia. Kasus infeksi difteri di Jawa Barat mencapai 109 kasus dengan 13 orang di antaranya meninggal dunia.

    Berkaitan dengan hal tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan, berharap Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bisa bekerja secara cepat dengan rumah sakit rujukan atau rumah sakit regional yang ada di Jabar untuk memberikan layanan terbaik.

    “Jadi bagaimana pun masalah kesehatan yang dialami masyarakat, ini ‘kan merupakan tanggung jawab pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah harus bisa menyelenggarakan layanan prima untuk masyarakat,” kata Netty seusai membuka Rapat Konsultasi (Rakon) PKK Tahun 2017 di Kantor PKK Provinsi Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta No. 468 Bandung.

    Di sisi lain, data dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa 1/3 dari penderita difteri tidak diimunisasi. Sedangkan upaya yang dianggap efektif untuk mencegah terjadinya difteri itu sendiri adalah dengan pemberian imunisasi. Dengan imunisasi akan memberikan perlindungan kekebalan terhadap penyakit secara spesifik bergantung pada jenis vaksin yang diberikan.

    “Tentu ini menjadi ‘PR’ dan tantangan kita untuk terus bekerja di masyarakat, khususnya mengedukasi keluarga sehingga masyarakat ataupun balita bisa tercegah dengan mengikuti program lima imunisasi dasar lengkap salah satunya imunisasi DPT,” sambungnya.

    “Saya pun menyarankan, di era kecepatan teknologi seperti hari ini kita harus melakukan kerja-kerja kreatif dan responsif melibatkan MUI dan tokoh agama untuk membangun kepercayaan di tengah masyarakat, karena ketika kita bicara tentang imunisasi ternyata masih ada diskusi-diskusi di tengah masyarakat tentang status kehalalan bahan yang digunakan dalam imunisasi itu,” tambah Netty.

    Netty menyampaikan pada Peserta Rakon PKK 2017 untuk mengikuti rapat konsultasi ini hingga tuntas agar setiap komponen masyarakat termasuk juga perangkat daerah bisa bersinergi antara program yang diselenggarakan dengan kondisi faktual dan situasi empirik di tengah masyarakat. Dengan sebuah keharmonisan kerja, ini diharapkan hasilnya lebih efektif. Terlebih saat ini tantangan membangun Jabar ini tidak mudah, termasuk mengimbau kepada seluruh keluarga di Jabar khususnya para orangtua untuk memberikan kepercayaan pada pemerintah, salah satunya kepercayaan untuk memberikan anak-anaknya Imunisasi.

    “Jadi kita semua yakin pemerintah tidak akan mungkin mencelakakan masyarakatnya atau membuat masyarakatnya sengsara, salah satunya dengan program imunisasi. Saya yakin keberanian pemerintah bekerja sama dengan pihak Biofarma, MUI, dan juga kelompok masyarakat lain ingin menegaskan bahwa imunisasi pada hari ini tidak diragukan, apalagi sudah mendapatkan status kejelasan dari BP POM dan MUI,” papar Netty.

    Sebelumnya diketahui bahwa wabah difteri ini banyak ditemui di negara-negara berkembang, yang angka vaksinasinya masih rendah. Penyakit yang bersumber dari bakteri yang bernama Corynebacterium diphtheriae ini termasuk dalam penyakit menular yang disebarkan melalui penghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi penderita.

    Penderita yang mengalami difteri biasanya menunjukkan beberapa gejala, di antaranya gejala ringan seperti flu pada umumnya. Namun, difteri juga memiliki gejala yang khas seperti lapisan tebal abu-abu di bagian tenggorokan dan tonsil, demam, menggigil, pembesaran kelenjar di leher, suara yang keras seperti menggonggong, radang tenggorokan, kulit membiru, mengeluarkan air liur terus-menerus dan rasa tidak nyaman pada tubuh. Itulah mengapa difteri ini juga ikut berperan besar dalam menyumbang angka kematian pada bayi di Indonesia. * caca

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here